Kemendikdasmen dan Disdikbud Boyolali Bersinergi untuk Kompetensi dan Kualifikasi Guru

5 May 2026

Siaran Pers
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Nomor: 357/sipers/A6/V/2026

Boyolali, Jawa Tengah, 5 Mei 2026 — Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dwi Hari Kuncoro untuk membahas terkait dengan program prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), penuntasan kualifikasi guru, serta kebijakan lainnya. Audiensi ini berlangsung di SMP Negeri 1 Ngemplak Kabupaten Boyolali, Sabtu (2/5).

Dirjen Nunuk menjelaskan bahwa Kemendikdasmen tengah merancang pengembangan kompetensi guru yang langsung ke jantung pendidikan yaitu sekolah. Melalui program ‘Hari Belajar Guru’, pemerintah ingin mendorong sinergi dengan pemerintah daerah untuk menciptakan jadwal khusus bagi guru agar dapat belajar tanpa harus meninggalkan tugas mengajar mereka.

“Nanti dijadwalkan di Boyolali ini, guru-guru tertentu, mata pelajaran tertentu, di hari apa. Misalnya sebagai contoh hari Kamis, nanti di hari itu, guru sejarah masuk ke sekolah tidak mengajar namun berkumpul di MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) atau kelompok kerja. Kemudian kami kirimkan pelatihnya dengan pelatihan-pelatihan yang sedang kami kembangkan. Sehingga seluruh guru di kabupaten Boyolali akan mendapat pelatihan. Pelatihan yang diikuti juga mendapatkan penghargaan yang sama dengan pelaksanaan pelatihan di hotel,” ucap Dirjen Nunuk.

Pelaksanaan pelatihan ‘Hari Belajar Guru’ ini merupakan hasil refleksi mendalam terhadap efektivitas pelatihan selama ini. Model pelatihan konvensional dinilai sering kali terputus dari realitas kelas yang dihadapi guru sehari-hari.

“Pelatihan di hotel tidak lebih efektif daripada dilakukan langsung di sekolah, sehingga bisa langsung praktik, refleksi, dan seterusnya,” ujar Dirjen Nunuk menjelaskan mengapa model Teaching Experimental Training kini menjadi prioritas utama.

Terkait dengan hal itu, Dirjen Nunuk juga mengungkapkan bahwa sudah dilakukan sejumlah perbaikan pelatihan, khususnya terkait dengan pembelajaran mendalam.

“Kami juga sudah melakukan perbaikan-perbaikan pelatihan, khususnya terkait dengan pembelajaran mendalam, yang pelatihannya berdasarkan pengalaman belajar di sekolah. Menurut kami, kebijakan Hari Belajar Guru ini sangat penting untuk segera dibuat edaran,” ucap Dirjen Nunuk.

Di samping inovasi pelatihan, audiensi ini juga menyoroti tantangan manajerial yang mendesak, khususnya terkait kekosongan jabatan kepala sekolah definitif di jenjang SD dan SMP di Kabupaten Boyolali. Akar permasalahannya sering kali terletak pada guru pangkat III/c yang sulit ditempatkan sebagai kepala sekolah di luar instansi asalnya karena sistem yang berlaku.

“Persoalan ini bukan sekadar teknis, tapi sistemik. Guru yang sudah memenuhi kualifikasi III/c seharusnya diberikan fleksibilitas untuk mengisi kekosongan jabatan tanpa dibatasi oleh sekat-sekat jabatan yang kaku,” ungkap Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan, Dwi Hari Kuncoro.

Sementara itu, Kemendikdasmen terus mengejar target penuntasan sertifikasi guru dan kualifikasi akademik S1/D4. Di Boyolali sendiri, tercatat masih ada 255 guru yang belum tuntas Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan 211 guru yang belum memenuhi kualifikasi S1/D4.

“Tahun ini tahun terakhir, semester ini penuntasan. Kami akan mendampingi untuk memastikan data ini benar atau tidak,” ujarnya mengingatkan para guru untuk segera memanfaatkan pembukaan pendaftaran gelombang ketiga yang masih tersedia.

Kadis Dwi Hari Kuncoro menegaskan Pem Kabupaten Boyolali juga terus mendorong program regrouping atau penggabungan sekolah. Data lapangan yang dipaparkan menunjukkan adanya kekosongan kepala sekolah di sejumlah jenjang, ketidakseimbangan distribusi guru antarwilayah, serta banyaknya guru yang belum memenuhi persyaratan kualifikasi akademik atau sertifikasi pendidik.

“Untuk mengatasi sekolah-sekolah dengan jumlah peserta didik sangat sedikit dan keterbatasan guru, pemerintah daerah telah menetapkan kebijakan regrouping. Kebijakan ini dimaksudkan bukan semata untuk menutup sekolah, melainkan untuk menyelesaikan persoalan kekurangan peserta didik, kekurangan guru, dan keterbatasan anggaran pemeliharaan sehingga kualitas layanan pendidikan dapat ditingkatkan secara berkelanjutan,” ungkapnya.

“Saat ini, sebanyak 48 SD di Boyolali telah menyatakan kesiapan untuk bergabung demi mengoptimalkan sumber daya. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap satuan pendidikan memiliki fasilitas dan tenaga pendidik yang memadai,” tambahnya.

Audiensi ini juga dihadiri oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Temu Ismail; Direktur Direktorat Pendidikan Dasar, Rachmadi Widdiharto; Direktur Direktorat Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan, Iwan Junaedi; Direktur Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini dan Nonformal, Samsul Bari; dan Asisten II Kabupaten Boyolali.

 

Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Seminar Internasional Pendidikan 2025, Pembelajaran Mendalam untuk Mewujudkan Transformasi Pendidikan

Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 804/sipers/A6/XI/2025 Surakarta, 21 November 2025 – Pentingnya transformasi pembelajaran menjadi jawaban atas

Sebanyak 12.500 Guru TK dan SD Lanjutkan Studi S1/D4 Melalui Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik Kemendikdasmen

Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 540/sipers/A6/IX/2025 Jakarta, 12 September 2025 – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui

Kemendikdasmen Buka Pendaftaran TKA SD dan SMP Tahun 2026

Siaran Pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor: 38/sipers/A6/I/2026 Jakarta, 20 Januari 2026 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen)

Lapor Beri Kami Penilaian WhatsApp