Kolaborasi Internasional Dorong Transformasi Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar

14 December 2025

Bogor (14/12) – Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Banten kembali menyelenggarakan Seminar Internasional bertajuk “Global Language, Local Impact: Reimagining English as a Foreign Language for Indonesia’s Young Learners”. Seminar yang digelar di Swiss-Belcourt Bogor ini menjadi forum strategis untuk membahas arah kebijakan dan praktik pembelajaran Bahasa Inggris bagi peserta didik usia dini di Indonesia.

Seminar internasional ini menghadirkan narasumber dari dalam dan luar negeri, yakni Dr. Meilyanti, M.Si. (Kasubdit Dikdas, Direktorat GTKPG), Prof. Herri Mulyono, Ph.D. (Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA), Le Thuy Ngoc Van (Director NVEC, Vietnam), serta dua akademisi dari University of Glasgow, Inggris, Dr. Lavinia Harsu, Ph.D. dan Dobrochna Furto, Ph.D. Diskusi dipandu oleh moderator Aris Supriyanto, M.Pd., dan diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang pendidikan.

Dalam paparannya, Dr. Meilyanti menegaskan bahwa kebijakan penerapan Bahasa Inggris di jenjang sekolah dasar menjadi perhatian serius Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2025 pembelajaran Bahasa Inggris di SD bersifat opsional dan direncanakan menjadi wajib pada tahun 2027. “Tantangan utama kita adalah keterbatasan guru Bahasa Inggris di SD. Lebih dari 60 persen sekolah dasar belum memiliki guru Bahasa Inggris, sehingga diperlukan strategi peningkatan kompetensi guru kelas,” ujarnya.

Ia memaparkan Program Peningkatan Kompetensi Guru SD Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) sebagai solusi strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Program ini dirancang dengan pendekatan pedagogi yang berpusat pada murid, menempatkan Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi, bukan sekadar hafalan, serta selaras dengan penguatan identitas dan budaya lokal.

Sejalan dengan itu, Prof. Herri Mulyono menekankan pentingnya redefinisi kompetensi guru Bahasa Inggris di jenjang SD. Menurutnya, keterbatasan waktu dan sumber daya menuntut pendekatan pelatihan yang realistis dan terukur. “Kita tidak menuntut guru menjadi penutur asli, tetapi mampu memfasilitasi komunikasi sederhana dan bermakna. Dalam waktu terbatas, yang penting adalah keberanian guru dan kejelasan tujuan pembelajaran,” jelasnya.

Pengalaman internasional disampaikan oleh Le Thuy Ngoc Van dari Vietnam yang memaparkan praktik inovatif pembelajaran Bahasa Inggris berbasis seni melalui pendekatan translanguaging dan art as medium. Ia menegaskan bahwa seni, budaya, dan aktivitas kinestetik dapat menjadi jembatan efektif untuk mengurangi kecemasan siswa dan meningkatkan keterlibatan belajar Bahasa Inggris sejak usia dini.

Sementara itu, Dr. Lavinia Harsu dan Dobrochna Furto dari University of Glasgow menyoroti pentingnya pembelajaran Bahasa Inggris yang kontekstual, kreatif, dan berangkat dari pengalaman hidup siswa. “Belajar bahasa tidak harus dimulai dari nol, tetapi dari dunia yang sudah dikenal anak. Seni dapat menjadi alat, metode, sekaligus cara berpikir dalam membangun makna,” ungkap Dr. Lavinia.

Melalui sesi diskusi dan tanya jawab, para peserta dan narasumber sepakat bahwa pengajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar perlu diarahkan pada pembelajaran yang menyenangkan, adaptif, dan berorientasi pada perkembangan sosial-emosional peserta didik. Pendekatan berbasis proyek, diferensiasi tugas, serta pemanfaatan seni dan budaya lokal dinilai mampu menjawab kesenjangan kemampuan siswa dalam satu kelas.

Seminar ini menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, di antaranya perlunya perubahan paradigma guru SD dalam mengajarkan Bahasa Inggris, transformasi kurikulum yang tidak lagi berfokus pada hafalan tata bahasa, serta penguatan sosialisasi dan pelaksanaan program PKGSD-MBI secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi Indonesia–Vietnam–Inggris, kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya praktik pembelajaran Bahasa Inggris yang relevan dengan konteks lokal sekaligus berdaya saing global.

Pendampingan OJT Pelatihan Matematika Gembira: Meningkatkan Kompetensi Guru TK dan SD dalam Numerasi

Bandung (4–6 November 2025) — Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat kembali melaksanakan Pendampingan On the Job

SEMARAK HARI GURU NASIONAL 2023

Halo Sahabat BBGP Jabar, informasi penting yang ditunggu-tunggu telah tiba!! Kegiatan apresiasi bagi GTKPL (Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidik Lainnya)

BBGTK Jabar Gelar Sosialisasi ZI untuk Tim Layanan

Bandung – Dalam rangka memperkuat implementasi Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), BBGTK Jabar menyelenggarakan sosialisasi ZI

Lapor Beri Kami Penilaian WhatsApp